Ulang Tahun ke-64, UM Kenalkan Musium Pembelajaran Pertama di Indonesia

Infokampus.news, Malang – Genap berusia 64 tahun membuat Universitas Negeri Malang (UM) terus melakukan banyak progress. Diantaranya kali ini memperkenalkan musium pembelajaran UM, dimana semua benda sejarah sejak kampus pendidikan ini masih bernama IKIP di tahun 1954 hingga sekarang.
“Musium kan bagian dari pendidikan yang panjang, disini kita simpan berbagai koleksi nah yang sayang kalau dibiarkan saja. Karena kan koleksi benda-benda ini bukti perjalanan UM, lebih dari seratus buah benda antik ada disini.” Ungkap Ari Sapto, Ketua Pengelola Musium Pembelajaran UM pada wartawan.
Bangunan yang digunakan untuk mendirikan musium ini juga merupakan bekas ruang kerja rektor pertama. Semua barang-barang yang dipergunakan dalam pembelajaran mulai dari meja rektor, telepon kuno, berbagai medali, kamera jadul hingga mikroskop pertama yang digunakan dalam pembelajaran ada disini.
Selain itu yang menarik, ada 3 warna almamater yang berbeda yang telah digunakan UM sejak masih bernama IKIP. Sejak pendirian 1954-1999 saat masih bernama IKIP almamater UM bewarna blue wash atau biru keabu-abuan. “Lalu ganti warna jadi biru dongker di tahun 1999 sampai 2018 karena waktu itu kan sudah ganti dari IKIP ke UM. Nah sekarang 2018 biru elektrik,” Tukasnya.
Almamater IKIP ini sendiri baru diterima dari salah satu alumni UM yang lulus tahun 1999 beberapa waktu lalu. “Pengumpulannya tidak mudah, kami mencarinya sulit sekali karena kan ya orang-orang juga bingung apa pentingnya barang sudah kuno begitu.” Lanjutnya.
Selain itu untuk progress lain di bidang riset, dalam ceremony dies natalis yang digelar hari ini (18/10) kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc memberikan saran khusus bagi para dosen UM. Menurutnya para dosen harus bersaing dalam melakukan riset yang berkwalitas dan tidak mengandalkan dana negara atau PT saja.
Periset harus mampu menggaet investor besar untuk terlibat dalam penelitian berkwalitas tersebut.
“Ini yang harus diperhatikan juga, sudah bukan jaman lagi melihat dari sisi manufaktur tapi kita lihat dari sisi riset. Kita tidak bisa produksi massal dengan harga murah, karena pasti akan kalah dengan China dan Taiwan, tapi kita bisa kembangkan di sisi idenya, misal kita produksi cip seribu dengan harga 5.000 rupiah per buah, ya akan kalah dengan Taiwan yang jual satu cip 1.000 karena mereka produksinya satu milyar cip. Tapi, saat ini yang harus kita harus pikir misalnya bagaimana saingi bluebird (taksi), tidak mungkin kan mau modal milyaran beli mobil? Nah akhirnya ada grab, online, kita harus berpikir dengan pola seperti itu.” Tutupnya. (Pus)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Seminar Literasi Media
MNC Group Gelar Seminar Literasi Media di STIE Kesatuan Bogor

Infokampus.news – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kesatuan Bogor antusias mengikuti seminar bertema “Literasi Zaman Now untuk Generasi Milenial” yang

Close