Unik! IbM bagi Posdaya Pandanwangi Ini Sulap Limbah jadi Topeng Malangan dan Wayang Harga Miring

Infokampus.news, Malang – Topeng Malangan dan wayang merupakan salah satu warisan budaya yang harus terus dilestarikan oleh generasi muda. Sayangnya, harga topeng Malangan maupun wayang kulit asli dipatok harga yang sangat tinggi mulai ratusan hingga jutaan rupiah per buahnya. Nah, lalu bagaimana solusi agar budaya tetap bisa terwariskan tanpa mengurangi nilai estetikanya?

topeng malangan dan wayang 2
Pendampingan di rumah warga

Salah satu dosen Universitas Gajayana (UNIGA) Malang bersama tim nya ahirnya menjawab tantangan ini. Berawal dari skema hibah IbM (Iptek bagi Masyarakat) yakni skema hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diberikan Kemenristekdikti, ia dan timnya memberikan pelatihan dan pendampingan bidang kewirausahaan, produksi, pemasaran online, pembukuan sederhana serta pemberian bantuan peralatan dan bahan kepada Posdaya Edelweis Gajayana dan Teratai Putih Gajayana dalam pemanfaatan limbah kertas untuk produksi topeng malangan dan wayang.

“PkM dengan skema IbM tentang pemanfaatan limbah kertas yang kami ajukan ke Kemenristekdikti sebagai bentuk kepedulian kami, sebagai dosen, terhadap lingkungan bersih sekaligus dalam pelestarian budaya lokal.. Selain itu, koran dan kertas bekas yang berserakan dimana-mana sebenarnya bisa diolah untuk barang yang berdaya guna dan bernilai jual, salah satunya dalam bentuk topeng malangan dan wayang. Ini juga merupakan upaya pemberdayaan masyarakat yang pada akhirnya bisa menyokong pendapatan keluarga,” jelas Fahmi Poernamawatie, ketua tim IbM.

Posdaya yang berlokasi di Kel. Pandanwangi, Kota Malang tersebut awalnya merupakan Posdaya binaan UNIGA sejak tahun 2015 silam. Melalui IbM, para anggota Posdaya belajar untuk memproduksi serta dapat memasarkan dan mengelola usaha topeng malangan dan wayang dengan harga terjangkau. Tidak hanya terjangkau oleh siswa saja, namun ternyata mereka memproduksi topeng dan wayang dengan berbagai ukuran ini menggunakan limbah kertas dan koran yang relatif mudah untuk digunakan.

“Sebelumnya memang kelompok masyarakat di sini sudah memiliki background membuat hiasan dari koran bekas maupun kertas, plastik dan sebagainya. Kami melanjutkan dan mengembangkan sekaligus memberikan pendampingan bagi mereka,” tukas Fahmi kemudian.

Berkat pendampingan dari timnya, kini para anggota Posdaya sudah dapat menjual berbagai produk, meski masih berbasis sistem pre order. Dengan menggandeng beberapa mitra, IbM juga telah berupaya untuk memasarkan produk hasil IbM melalui media sosial, untuk menerapkan pengetahuan hasil pelatihan dan pendampingan di bidang pemasaran online.

topeng malangan dan wayang
Penyerahan bantuan cetakan, pola, peralatan, dan bahan
Topeng Malangan dan Wayang ini Dibuat dari Limbah Kertas, Kurang dari Sepuluh Ribu Rupiah Bisa Digunakan Sebagai Media Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar Hingga Menengah

Untuk topeng Malangan limbah kertas sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni terbuat dari kertas potong dan bubur kertas. Tentu karena kwalitas dan tingkat kesulitan yang berbeda untuk pembuatan kedua topeng ini harga yang dipatok keduanya juga berbeda.

“Kalau yang topeng Malangan dari kertas potong ini dibanderol yang paling besar sekitar 15 ribu rupiah per buah, kalau yang dari bubur karena ini cukup tebal juga sekitar 27 ribu rupiah per buahnya.” Tambahnya.

Uniknya, sahabat FoKus tidak hanya bisa memesan topeng dan wayang saja lho, tetapi juga bisa memesan produk lain seperti souvenir tempat alat tulis dengan ornamen topeng.

“Kalau seperti souvenir tempat alat tulis ini agak mahal kami banderol sekitar seratus ribu rupiah, namun tentu berbeda harga jika beli grosir.” Tutupnya.

Meskipun pelatihan dan pendampingan yang sudah diberi hibah oleh Kemenristekdikti ini awalnya merupakan hibah untuk pemberdayaan masyarakat, namun Fahmi dan timnya mengaku sangat bersyukur mampu memberikan dampingan kepada para masyarakat Kelurahan Pandanwangi ini. Karena antusiasme warga sangat besar terhadap produk budaya bernilai tinggi ini.

“Kami dan tentunya warga juga berharap ini terus berlanjut karena peluangnya besar, dan kami juga memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan budaya ini. Kami yakin dengan ini semua orang bisa mengenal budaya tanpa harus merogoh kantong yang cukup dalam.” Tutupnya. (Pus)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ketua MPR Ingatkan Mahasiswa ‘Tidak Lebay Melihat Perbedaan’ di Hari Sumpah Pemuda

Hari sumpah pemuda kali ini terasa berbeda di Universitas Negeri Malang (UM). Tak tanggung tanggung, karena ketua MPR-RI Dr. (H.C)...

Close