Uniknya Cabai Pelangi ala IPB, Intip Yuk!

Infokampus.news – Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Muhammad Syukur memperkenalkan varietas cabai baru yaitu cabai pelangi. Cabai pelangi ini memiliki degradasi warna berbeda yang cocok untuk menjadi tanaman hias dan memiliki tingkat kepedasan di atas cabai pada umumnya.

“Cabai ini bagus untuk dikonsunsi, juga bisa jadi hiasan di rumah. Ini hasil kawin silang genetika,” katanya, saat ditemui di rumahnya di Perumahan Alam Sinarsari, Blok D80, Kelurahan Cibeurem, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.

Varietas cabai ini merupakan Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman Departemen Agronomi IPB sejak 2003. Dari penelitian tersebut telah dilepas dan didaftarkan di Kementerian Pertanian sebanyak 23 varietas cabai besar, cabai semikeriting, cabai keriting dan cabai hias serta tomat.

Baca Juga:

“Untuk cabai hias ini ada enam varietas yaitu, cabe Syakira, cabe Lembayung, cabai Jelita, cabai Namira, cabai Ayesa dan cabai Ungara. Masing-masing cabai memiliki ciri berbeda tapi satu spesies yakni Capsicum Annuum yang umum dikonsumsi di Indonesia,” jelasnya.

Untuk cabai Syakira, memiliki ciri- ciri dengan buah awal berwarna kuning kemudian hijau dan terakhir berwarna merah. Cabai Jelita, pohonnya lebih rimbun dan pendek dan memiliki degradasi yang sama dengan cabai Syakira.

Cabai Namira dapat dilihat dari buahnya yang menumpuk pada batang berbeda dengan cabai lainnya. Cabai Ayesa memiliki buah yang cenderung bulat dan berwarna ungu. Sedangkan cabai Lembayung dan cabai Ungara memiliki ciri cabai sedikit membulat dan berwarna ungu pekat.

“Untuk varietas cabai hias ini memiliki tingkat kepedasan sekitar 1000 ppm. Jauh berbeda dengan cabai pada umumnya yang hanya 200 ppm. Kalau yang paling pedas ini cabai Ungara, bisa sampai 1600 ppm,” paparnya.

Untuk perawatannya sendiri, cabai ini tidak sesulit sama seperti cabai biasa. Tanaman ini mampu ditanam pada suhu ruangan berbeda dengan cabai lain yang harus ditanam di ruangan terbuka melakui media tanam pot dan tidak memerlukan sinar matahari langsung.

“Jelas varietas ini lebih mudah, menanamnya bisa menggunakan media tanam, kemudian menggunakan abemix lalu disiramkan 2 kali dalam seminggu. Ini langsung bisa panen antara tiga hingga enam bulan,” ungkapnya.

Saat ini, cabai tersebut sudah dipasarkan di seluruh Indonesia namun hanya berbasis online dan toko pertanian saja. Untuk ke depannya, ia akan terus melakukan temuan varietas baru terutama sayuran yang diharapkan mendukung ketahanan pangan keluarga.

“Saya akan terus coba kembangan varietas sayuran baru diharapkan mampu menjadi ketahanan pangan keluaraga dan membantu para petani berinovasi dan kita dapat berbgai pengetahuan tentang tanaman sayuran ini kepada para petani,” tutupnya. (FAM)

 

Sumber: ipbmag

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menkeu Batal Hadir, Mahasiswa Perpajakan Sukses Gelar Seminar Tax Amnesty

Himpunan Mahasiswa Perpajakan (Himapajak) Universitas Brawijaya (UB) hari ini, Rabu (12/10) menggelar Seminar Nasional bertemakan Efektivitas Pajak Melalui Tax Amnesty....

Close