Rektor Baru UB, Prof. Nuhfil Tampik Universitas Brawijaya Bukan Kampus Teroris Karena Ini!

Infokampus.news – Rektor baru UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani A.R, M.S didapuk menjadi salah satu narasumber di sebuah acara diskusi bertema “Strategi Kebangsaan Mengatasi Radikalisme di Universitas” yang digelar di Jakarta Selatan (11/6). Ia mengungkapkan tampikannya terhadap label ‘kampus teroris’ seperti yang diberiitakan media-media akhir-akhir ini.
“Perlu saya garis bawahi bahwa UB merupakan salah satu kampus besar di Indonesia yang mempunyai karakter khas. Karakter khas ini secara jelas termaktub dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan UB Nomor 1 Tahun 2017 tentang Standar Mutu UB yang menyatakan bahwa karakter khas standar mutu UB merupakan paduan seimbang dan serasi antara nilai ketuhanan, keindonesian dan Kebhinnekaan paradigma dengan semangat kewirausahaan nusantara.” Paparnya.
Menurutnya, dengan karakter khas tersebut, UB sangat memegang teguh semangat nasionalisme. Karakter khas yang dipegang UB memberikan pengertian bahwa  ilmu pengetahuan yang berasal dari nilai ketuhanan dan kebangsaan akan diarahkan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara Indonesia.
“Saya tidak memungkiri bahwa kegiatan  illegal yang mengarahkan civitas akademi mengikuti gerakan radikalisme bisa saja terjadi di berbagai tempat termasuk di dalam kampus.” Tambahnya.
Namun lebih lanjut, untuk menyelidiki hal tersebut harus ada data akurat tentang  penyebab terjadinya gerakan radikalisme di kampus, bagaimana cara penyebarannya, dan cara mengatasi gerakan radikalisme tersebut.
“Kami di UB telah melakukan pengamatan dan deteksi dini terhadap isu ini. Hasil pengamatan di lapangan menemukan bahwa ada dua faktor penyebab radikalisme di dalam kampus yaitu faktor internal dan faktor eksternal.” Tukasnya.
Rektor Baru UB Beberkan Upaya Pencegahan Radikalisme dengan Ini
Faktor pertama terjadinya seseorang masuk gerakan radikal yakni kondisi psikologis  yang tidak stabil, seperti stress dan depresi akibat adanya tuntutan hidup dan terbelit pada kesulitan ekonomi serta masa lalu seseorang menjadi penyebab seseorang menjadi teroris. Seseorang yang kondisi psikologisnya tidak stabil akan dengan mudah dipengaruhi oleh faham-faham yang berkiblat pada terorisme.
Sedangkan faktor eksternal bisa karena keterpengaruhan sesorang terhadap faham-faham terorisme. Selain lunturnya nilai-nilai kebangsaan, kesenjangan ekonomi, pemahaman keagamaan yang keliru, ada doktrin jihad dari luar masuk ke Indonesia, dan sentimen emosianal dan banyak lainnya.
“Untuk menangkal redikalisme di kampus, UB memiliki 4 cara yaitu:
Profilling civitas akademi, untuk mengetahui pandangan dosen, tenaga administrasi, dan mahasiswa mengenai paham radikal. Pembentukan Psychology Centre dibentuk sebagai wadah pemberian konsultasi dan   pendampingan civitas akademi yang mengalami masalah psikologi, penyelenggaraan Diskusi Terbuka, dan Monitoring Pengajian” Tutupnya. (Pus)

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
tradisi sambut lebaran
Tradisi Sambut Lebaran Ala Daerah di Indonesia

Infokampus.news – Idul Fitri merupakan momen perayaan bagi umat muslim setelah satu bulan penuh menahan lapar, haus, dan emosi kala

Close