Upayakan Produktifitas Industri Jamu Gendong, UWG Malang Buat Mesin Penggiling Jamu

Infokampus.news, Malang – Jamu gendong merupakan produk lokal yang sudah jarang ditemukan, dulu dapat dengan mudah kita temukan menjajakan jamu dengan berjalan kaki dan berkeliling ditempat-tempat strategis seperti pasar maupun area pemukiman. Pengolahan dan cara jual yang sederhana bisa jadi menjadi salah satu faktor berkurangnya penjual jamu gendong.

Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang adalah salah satu sentra jamu gendong, disana masih banyak ditemui industri rumahan jamu gendong yang masih setia memproduksi minuman tradisional ini. Sedikitnya penjual jamu gendong sama sekali tidak mengurangi konsumen yang sudah terbiasa mengkonsumsi minuman tradisional yang memiliki berbagai macam khasiat ini.

Sebagai industri rumahan yang masih munggunakan bahan dan alat seadanya dirasa belum mampu memenuhi permintaan konsumen secara kuantitatif maupun kualitatif. Pengolahan yang masih sederhana ternyata belum tentu dapat menghasilkan jamu gendong yang higienis dalam proses produksinya.

Setelah melakukan diskusi bersama para pelaku industri jamu gendong akhirnya Yuni Agung Nugroho, SP., MP sepakat untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Alat produksi dirasa menjadi faktor utama yang sangat dibutuhkan oleh para industri rumahan disana. Bersama pelaku industri, telah disepakati pembuatan mesin penggiling jamu, show case untuk display jamu, kulkas untuk penyimpanan jamu dan gerobak dorong untuk alat bantu pemasaran.

Optimalkan Produk Temuan Untuk Industri Jamu

Dengan bantuan dana hibah dari Kemenristek Dikti, program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk efisiensi proses produksi, peningkatan kualitas dan perluasan wilayah pemasaran produk jamu tradisional di Kelurahan Merjosari Kota Malang. Dengan begitu diharapkan produksi maupun penjualan jamu dapat terlaksana dengan lebih baik.

“Sebelumnya saya hanya bisa memproduksi maksimal 2 kg jamu per 2 hari. Dengan mesin penggiling jamu ini, saya mampu membuat 2 kg/hari, bahkan bisa 4 kg/hari. Hasil jamu lebih higienis karena tidak tercampur bahan lain dalam mesin tersebut, ” ungkap Kustiani selaku penerima paket teknologi tepat guna (TTG) dari UWG Malang.

“Sebenarnya kapasitas produksi mesin penggiling jamu ini adalah 10 kg/jam. Dengan wilayah pemasaran yang lebih luas karena sekarang sudah ada gerobak dorong, mudah-mudahan ke depan kapasitas ini dapat kami optimalkan,” tambahnya.

“Teknologi Tepat Guna dari UWG Malang yang kami berikan ini mudah-mudahan berdampak positif pada meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap produk tradisional masyarakat ini,” tegas Agung. (has)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terima 16 Mahasiswa Bidikmisi , ITN Malang Bangga dan Berharap Para Penerima Beasiswa Ini ‘Bekerja Keras’

Total sebanyak 16 orang mahasiswa bidikmisi yakni terdiri dari 15 orang penerima bidikmisi dari pemerintah dan 1 orang penerima

Close