UWG Malang Manfaatkan Limbah Sapi Perah Untuk Biogas

Infokampus.news, MalangIndustri ternak di Indonesia sudah sangat menjamur, baik perorangan maupun perusahaan besar sudah banyak yang membuat peternakan sapi perah. Produksi susu sapi perah dapat dikatakan sangat menanjikan, banyaknya konsumen dan meningkatnya permintaan pasar sudah sudah menjadi bukti nyata banyaknya kebutuhan susu sapi perah.

Berkembangnya industri ternak sapi perah di Desa Tlogosari Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan berbanding terbalik dengan munculnya limbah kotoran sapi yang baunya cukup menyengat terlebih lagi bila musim hujan tiba, itu membuat permasalah sendiri bagi para pelaku industri ternak sapi perah.

Muhammad Agus Sahbana, ST, MT,. dan Ir. Agus Suyatno, MT,. mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat disana. Setelah berdiskusi bersama kelompok peternak sapi perah “Sido Rukun” dan “Mardi Rukun”, akhirnya muncul ide mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas.

Pemanfaatan Limbah Sapi Perah Untuk Kurangi Bau Kotoran Sapi

“Kami buat instalasi biogas tepat dibelakang kandang sapi, yang dapat mengolah 9 m3 limbah kotoran sapi. Instalasi ini memiliki dua fungsi. Pertama sebagai penghasil biogas yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar (genset, kompor, lampu dan lain-lain).  Fungsi kedua, adanya instalasi ini mencegah pemilik ternak membuang limbah kotoran sapi langsung ke sungai yang berakibat pencemaran. Teknologi yang diterapkan adalah Digester (pencerna) dengan tipe Fixed Dome yang sangat fungsional menghasilkan gas bio hasil fermentasi kotoran sapi dengan bakteri anaerob,” jelas Muhammad Agus Sahbana, ST, MT,. selaku ketua pelaksana.

“Untuk jangka panjang, kami berharap kebiasaan masyarakat menebang pohon untuk kayu bakar dapat dihentikan karena sudah tersedia bahan bakar dari biogas ini. Tetap terpeliharanya pohon-pohon dan diolahnya limbah kotoran sapi perah ini pada giliran selanjutnya akan membuat lingkungan di wilayah Kecamatan Tutur ini menjadi makin sejuk dan masyarakat terbebas dari beberapa penyakit yang selama ini sering dialami antara lain sesak napas.  Untuk itu tim juga akan melakukan pembinaan pengelolaan kelompok agar kelompok menjadi lebih dinamis,” imbuhnya.

“Bukan hanya kebutuhan energi untuk rumahtangga yang dapat dipenuhi dengan dibuatnya instalasi pengolahan limbah ini. Sisa fermentasi dari digester biogas ini juga diolah menjadi pupuk organik, yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian di sekitar lokasi sehingga permasalahan lain terkait dengan sulitnya mendapatkan pakan hijauan pun dapat diatasi,” ungkap Hariyanto selaku tokoh masyarakat setempat. (has)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagaimana Penerapan Pidana Berbeda Dalam Kasus Yang Sama, PERSADA, USAID dan MaPPI FHUI Gelar Seminar Disparitas Pidana TPK

Penerapan pidana yang tidak sama terhadap kasus yang sama atau disebut disparitas pidana adalah hal yang lazim ditemukan di Indonesia....

Close