Wah, Dosen Ini Teliti ‘Suplemen Belajar’ yang Pas Untuk Siswa Agar Lulus dengan Nilai Memuaskan

Infokampus.news, Malang – Setiap orang tua dan guru pasti berharap para siswa agar lulus dengan nilai memuaskan. Namun demikian, fakta di lapangan terkadang sering berbicara hal yang berbeda. Beberapa jenis sekolah keagamaan misalnya, memiliki beberapa waktu belajar di sekolah yang digunakan untuk kegiatan keagamaan seperti mengaji, membaca doa dan sebagainya. Akibatnya, jam pelajaran di kelas tidak sama dengan jam pelajaran di kelas sekolah umum, sementara kompetensi dasar yang harus dicapai sama.

Agar proses pembelajaran lebih optimal perlu dikembangkan bahan ajar dengan aplikasi mobile learning bagi siswa. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian Dr. Dyah Werdiningsih M.P.d., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA, yakni mengembangkan modul pembelajaran BI berbasis strategi metakognitif siswa dengan aplikasi mobile learning untuk siswa SMP/MTs.

“Pengembangan modul pembelajaran yang kita kembangkan dilengkapi instrumen pengembangan metakognitif siswa, sehingga mereka bisa memahami tujuan belajarnya, manfaatnya bagi kehidupan mereka, mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan terbut, memiliki kemampuan merencanakan belajar, melaksanakan, dan mengases kemajuan belajarnya sendiri, serta mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. Modul pembelajaran kemas dengan aplikasi mobile learning sehingga siswa dapat menggunakannya di luar jam sekolah,” tukasnya pada tim infokampus.news.

Siswa Agar Lulus dengan Nilai Memuaskan Siswa Bisa Belajar Mandiri Lewat Modul Online

Dengan mempelajari modul ini yang dikemas secara online, diharapkan siswa dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik. Tambahan model pembelajaran miliknya ini diutamakan untuk siswa Madrasah ataupun sekolah dengan latar belakang keagamaan. Karena dengan tambahan bahan pembelajaran akan menambah wawasan materi dan siswa akan semakin siap menghadapi ujian nantinya.

“Jadi di kelas guru perlu menjelaskan peran dari modul ini bagi siswa. Oleh karena jam pelajaran di kelas terbatas, setelah pulang siswa jarus belajar mandiri agar kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum dapat tercapai. Jadi diharapkan dengan proses belajar mandiri di luar kelas yang cukup kompetensi yang didapatkan bisa jauh lebih baik,” tambahnya.

Namun kendalanya, tidak semua siswa diperbolehkan menggunakan handphone, terutama mereka yang tinggal di pondok.

“Tapi akhirnya beberapa sekolah memperbolehkan menggunakan handphone, setelah kami jelaskan penggunaannya, dengan syarat handphone hanya digunakan untuk kegiatan belajar, dan siswa hanya bisa mengakses beberapa portal yang diizinkan saja. Selain itu portal-portal yang dipandang mengakibatkan dampak negatif ditutup”, tutupnya. Meskipun terlihat sangat menjanjikan, namun penelitian ini masih terus butuh pengembangan lebih lanjut terutama pada pembuatan beberapa instrumen pengembangan metakognitif sesuai dengan karakteristik siswa. Pengembangan metakognitif siswa ini diharapkan dapat mendukung kemandirian belajar siswa SMP/MTs. (Pus)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beasiswa Master dan Doktor dari KAAD Jerman, Daftar Yuk!

Batas Pendaftaran: November (Program Tahunan) Beasiswa Master dan Doktor dari KAAD Jerman telah dibuka

Close