Waspada, NOMOPHOBIA Serang Generasi Muda!

Infokampus.news, Malang – Nomophobia atau No Mobile Phone Phobia ternyata sudah mewabah di semua generasi, terutama pada generasi muda. Menurut Jamroji, ketua IKOM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), angka NOMOPHOBIA di kalangan masyarakat sudah sangat mencengangkan.

“Angkanya kalau para hadirin tau, pasti tercengang,” tuturnya dalam acara Forum Group Discussion ‘Penguatan Media Dalam Mensosialisasikan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan’ hari ini. (17/3)

Angka ini dilihat dari banyaknya orang yang  memiliki ciri-ciri kelainan mental tersebut. Menurut Jamroji, NOMOPHOBIA sendiri bisa dilihat dengan ciri yang mudah diamati, yakni merasa gelisah dengan sedikit-sedikit mengecek handphone mereka meskipun tidak ada kepentingan khusus.

“Cirinya mudah diamati, misalnya kalau ada orang gelisah. Dalam arti, sedikit-sedikit mengecek handphone, padahal tidak ada kepentingan khusus. Ya hanya mengecek saja,” imbuhnya.

Baca Juga :  Jumlah Makin Minim, Pemerintah Fokus Benahi Pendidikan Dokter Spesialis
Tanpa HP Seperti Tidak Menggunakan Pakaian Dalam

Kegelisahan yang disebabkan oleh seorang NOMOPHOBIA tanpa handphone, menurutnya hampir sama dengan seseorang yang gelisah tanpa menggunakan pakaian dalam.

“Mirip ya sekarang orang tanpa handphone sama gelisahnya dengan seseorang yang ada di acara penting, tapi tidak mengenakan pakaian dalam. Terlihat sepele tapi sebenarnya hal ini mengkhawatirkan sekali,” tandasnya.

Ia berharap masyarakat mulai menyadari adanya NOMOPHOBIA ini sudah sangat meresahkan, harusnya hal ini diimbangi dengan kegiatan lain selain menggunakan handphone terus menerus dalam sehari. Masyarakat bisa mengganti kebiasaan menggunakan handphone tanpa kepentingan khusus dengan membaca buku ataupun banyak hal bermanfaat lainnya. (Pus)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan / Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belajar Tari Tradisional, Mahasiswi Jepang Ini Nyerah!

Endo Aisa atau yang memiliki nama Indonesia Retno, adalah salah satu mahasiswi pertukaran pelajar asal Jepang. Ia mengikuti Program Bunga

Close