World Bipolar Day, Marshanda : Hidup Dikuasai Bipolar atau Anda yang Mengendalikannya?

Infokampus.news Setiap tanggal 30 Maret, dunia merayakan Hari Bipolar, sebuah hari yang ditetapkan berdasarkan ulang tahun Vincent van Gogh, seorang pelukis yang meninggal karena bunuh diri pada usia 37 tahun.

Van Gogh memiliki kepribadian yang eksentrik dan suasana hati yang tak stabil. Selama dua tahun sebelum kematiannya, pelukis ini memiliki kehidupan yang luar biasa. Ia mengalami dua episode depresi yang reaktif, yang dikenal dengan nama bipolar.

Situsweb International Bipolar Foundation menceritakan Hari Bipolar Sedunia dirayakan agar dunia sadar akan gangguan bipolar dan menghilangkan stigma sosial bagi penyandangnya. Para penggagas berharap perayaan yang telah dilaksanakan sejak 2014 ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dan meningkatkan sensitivitas mereka terhadap penyakit ini.

Begitu juga selebriti Indonesia yang terkenal melalui sinetron bidadari, Yap Marshanda sejak tahun 2009 divonis dokter memiliki gangguan bipolar. Marshanda mengakui bahwa butuh waktu 3 tahun untuk menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami gangguan bipolar.

“Pada tahun 2009 saya divonis memiliki gangguan bipolar, dan kenyataan itu sangat sulit saya terima begitu saja, karena sepertinya merasa tidak memiliki masalah, Terima saja kenyataan bahwa ada bipolar dalam diri kita. Setelah itu, kita belajar mengenali gejalanya dan mengantisipasinya dengan bantuan dokter. Apabila kita masih menolak kenyataan, hidup kita tidak akan produktif” Tutur Marshanda.

Namun demikian, Marshanda mengakui hal tersebut tidak mudah dan setiap penyintas memiliki kondisi berbeda-beda dan terapi yang menyesuaikan tipe bipolar yang dimiliki. Bagi Marshanda, salah satu cara dirinya untuk tetap bisa mengendalikan emosinya adalah dengan menulis lima hal positif di buka hariannya.

“Setiap malam menjelang tidur, saya selalu menulis lima hal positif yang sudah saya syukuri selama seharian saya beraktivitas, dan ini membantu saya untuk berpikir positif,”katanya. Marshanda juga menyayangkan masih adanya stigma negatif di masyarakat terkait gangguan bipolar. Dirinya mendorong para penyintas untuk tidak terpengaruh dengan stigma tersebut.

Marshanda menambahkan Pilihannya, hidup Anda ingin dikuasai bipolar atau Anda yang mengendalikannya? Apabila memilih yang kedua, maka Anda tidak akam malu untuk datang ke ahli untuk memecahkan masalah Anda. Bangunlah relasi sebanyak mungkin dengan masyarakat dan mencoba untuk produktif.

Marshanda merasa edukasi tentang Bipolar belum maksimal. “Yang ada hanya poster-poster yang dipajang di rumah sakit, pada bagian psikiatrinya,” ujarnya. Bahkan ia punya pengalaman dengan dokter yang salah menulis gejalanya ini sebagai insomnia.

“Bayangkan bagian rumah sakit aja enggak tahu ini tuh bipolar belum teredukasi. Soalnya bipolar itu butuh penanganan yang tepat kalau parah bisa aja bunuh diri loh. Jadi, kalau punya kenalan harus disemangatin. Jangan anggap ke psikiater itu memalukan karena dianggap gila itu enggak bener bipolar itu bukan gila kalau ditreatment dengan bener itu bisa normal lagi,” tegasnya.

Ke depannya, dengan Marshanda meyakini bahwa edukasi lewat media sosial menjadi yang paling efektif dan bisa menjangkau banyak orang. (Jul)

Berita Terkait

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
cari tempat kos
Calon Mahasiswa Baru? Harus Paham Cara Tekan Biaya Kos di Malang!

Menjadi mahasiswa baru yang harus merantau ke kota orang memang harus pintar-pintar ya tekan biaya kos di Malang. Tak dipungkiri...

Close