Wow, Film “Satu cm Pancasila” Garapan Mahasiswa STMIK Asia Malang Berhasil Menjadi Juara Nasional di Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2017

Infokampus.news, Malang – Direktorat Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan melaksanakan program Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2017 sebagai upaya mengembangkan kreativitas, minat dan bakat mahasiswa dalam bidang seni khususnya film.

Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2017 secara khusus didedikasikan untuk kesatuan dan persatuan bangsa. Dengan mengangkat tema “Pengamalan Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara” diharapkan dapat memberi ruang ekspresi bagi pembentukan pola pikir, sikap, dan perilaku yang positif dan lebih mencintai bangsanya.

Sutradara Film “Satu cm Pancasila” : Indonesia Sudah Kuat Dengan Adanya Perbedaan

Dari hasil penilaian juri, STMIK Asia Malang berhasil menduduki peringkat kedua sebagai juara nasional di Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2017. Melalui film pendek berjudul “Satu cm Pancasila”, Teddy Tri Murdianto selaku sutradara sangat tidak menyangka jika kerja kerasnya bersama tim dapat membuahkan hasil yang sangat tidak terduga.

“Ini pertama kali STMIK Asia Malang masuk di Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI), kami sangat bangga dapat terpilih menjadi juara di ajang Nasional ini,” ungkapnya.

“Film yang kami garap berjudul Satu cm Pancasila, didalamnya menceritakan tentang diskriminasi yang ada di indonesia. Kebanyakan orang di Jawa masih memandang rendah orang timur, dengan begitu sudah dapat dikatakan sebagai tanda-tanda bahwa Indonesia sudah bergeser 1 cm dari nilai-nilai Pancasila,” paparnya.

“Tapi menurut kami difilm ini dapat dinilai jika ternyata itu salah, Indonesia itu sudah kuat dengan adanya perbedaan dan karena ada perbedaan itu kita jadi satu,” tegasnya.

“Kami melakukan brainstorming dari lingkungan sekitar, kebetulan si aktor elfinus dari kupang biasanya dia susah bersosialisasi, diajari kata-kata yang tidak pantas. Dan lagi dulu ada kasus jika orang timur tidak diperbolehkan ngekost,” terangnya.

Teddy mengungkapkan jika penggarapan film Satu cm Pancasila ini terbilang sangat cepat, waktu terbatas dan pembagian jadwal yang sulit membuatnya bersama tim harus ekstra bekerja keras demi terselesainya film tersebut. Film Satu cm Pancasila sendiri adalah film dengan alur cerita yang sangat syarat akan penekanan pesan moralnya didalamnya.

“Kami produksi film Satu cm Pancasila selama 3 minggu, dan 1 minggunya pembuatan konsep saja karena pada saat itu sedang ujian. Lalu minggu ke 2 dan ke 3 nya mulai melakukan produksi shooting dan editing gambar,” katanya.

“Mencari peran pembantu yang membuat kami sedikit kesulitan, dan mengatur jadwal dari setiap crew yang beda-beda. Dan karena waktu itu tepat dengan libur perkuliahan, kami terpaksa menggunakan dosen dan anak-anak sekitar yang ada,” jelasnya.

“Saya sendiri sebagai sutradara belajar banyak hal dari film Satu cm Pancasila, dari sini saya bersama crew dapat belajar tentang efektivitas pembuatan film, kerjasama tim, persahabatan dan tentunya indahnya keragaman di Indonesia. Saya harap film Satu cm Pancasila tidak hanya berhenti disini, namun juga bisa menjadi motivasi bagi semua orang khususnya masyarakat Indonesia yang masih sulit memahami arti perbedaan dan tentunya film Satu cm Pancasila dapat menjadi pemersatu bangsa,” tutupnya. (has)

Berita Terkait

  • Kampus STMIK Asia Malang adakan Asia Fest ke 3, event besar setahun sekali, dihelat di Malang City Point Mall lantai 1 dan 2
  • Terlalu asyik dan larut dalam suatu pekerjaan terkadang membuat kita lalai akan lingkungan sekitar kita, apalagi saat tidak berada di rumah semua hal bisa terjadi di luar kendali. Seperti misalnya lupa mematikan kompor ataupun terjadi konsleting arus listrik bisa berakibat fatal dan membakar rumah kita.
  • Lima puluh tim siswa SMA dan SMP se-Jawa Timur bertarung dalam memperebutkan penghargaan teknologi robot yang digelar kampus Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Asia, Malang hari ini, Selasa, 25 Oktober 2015. Lomba ini digelar untuk meningkatan inovasi siswa dan melek teknologi.

ADV-728_x_90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Serat Nanas Jadi Media Tanam Apung Ala Siswa Bangka Belitung Ini!

Serat nanas jadi media tanam apung karya dua siswa asal SMK Negeri 2 Koba Kabupaten Bangka Belitung ini sangat

Close